Sekian tahun saya hidup di dunia
ini, tak ada satu pun orang yang memberitahu saya apa itu ulang tahun. Sampai
akhirnya saya mengerti sendiri bahwa ulang tahun itu adalah munculnya tanggal
yang persis sama dengan tanggal kelahiran kita pada tahun berikutnya. Namun sejatinya ulang tahun itu tidak pernah
ada, karena setiap tahun adalah tahun yang baru. Mungkin itu salah satu alasan
kenapa mama papa ga pernah mengajarkan ulang tahun pada saya. Selain tidak
penting – mungkin – ulang tahun juga menghabiskan waktu dan uang, dan sering
“disalahgunakan”, itu kesimpulan saya. Walaupun juga banyak sisi positifnya,
yaitu : menambah keakraban, belajar peduli dengan yang lain, ladang amal
mungkin bagi yang mentraktir makan, dan yang terpenting adalah sebagai waktu yang tepat untuk evaluasi diri. Dan
menurut saya, tak perlu menunggu waktu ulang tahun juga ya kalau mau
mendapatkan sisi positif tersebut. Itu bahkan bisa kita lakukan setiap hari.
Tapi apa boleh dikata, lingkunganlah yang memaksa kita untuk menganggap penting
ulang tahun. Satu lagi sebelum aku lupa menuliskannya, setiap orang ingin
diperhatikan. Itu.
Seumur hidup saya tak pernah menyengajakan
merayakan hari ulang tahun sendiri, ataupun menyengajakan agar hari ulang tahun
saya dirayakan. Kalaupun ada, itu hanya hari yang dirayakan secara surprise oleh sahabat, sahabat
ulangtahun. Dan itu pun dapat dihitung dengan jari pada kaki ayam. Bahkan saya
lebih sering menghindari untuk tidak adanya peringatan untuk hari kelahiran
saya ini. Tak tahu bagaimana awalnya bisa begini, tapi ini adalah kisah
pencarian yang sangat panjang jika harus diceritakan. Bahkan kalaupun aku
cerita, kamu juga ga akan peduli. Walaupun kamu ga peduli, aku akan tetap
cerita. Karena ga ada yang memaksa kamu untuk membaca tulisan ini.
Pertama kali saya menyaksikan sendiri orang
yang ulang tahun adalah waktu SD, teman SD yang agak gaul saat itu. Bahkan saya
baru tahu saat itu, kalau ada lilin, kue, terompet, balon, hadiah, dll di pesta
ulang tahun. Aneh? Ya enggaklah, namanya juga anak-anak, wajar aja kalau baru
tahu. Malah saat itu saya baru tahu ulang tahun itu ternyata pake tanggal lahir kita
masing-masing. Lalu saya cari tahulah kapan tanggal lahir saya. Saat itu saya
cuma tahu 12 Rabiul Awal pada tahun Fiil adalah hari lahirnya Nabi Muhammad
karena ada lagu. Setelah melihat surat keterangan kelahiran tenyata tanggal
lahir saya adalah 17 Muharram 1412. Betapa senang hati ini mengetahuinya, namun
setelah melihat kalender tidak ada bulan yang bernama Muharram. Sempat bingung
sih, tapi setelah melihat Surat Keterangannya kembali bertambah senang rasanya
mengetahui punya dua tanggal lahir, yang satu tahun hijriyah satu lagi 29 Juli
1991. Semenjak saat itu, saya berharap akan ada pesta ulang tahun layaknya seperti
teman-teman yang lain. Tetapi kenyataannya memang tidak pernah ada pesta
untukku. Sedih? Pernah sih merasa sedih, bahkan pernah bakar lilin sendiri
terus niup lilinnya sendiri. Dan tak seorang pun yang mengetahui kejadian itu,
sampai saat aku ceritakan ini sekarang padamu. Itu bukti mahalnya rasa
penasaran, kata orang kadang kau bisa terbunuh saat berusaha membunuh rasa
penasaran. Untung saja saya berhasil melewatinya dengan selamat. Memang tidak
pernah ada pesta ulang tahun seperti harapanku dulu, dan saya juga sudah lama
sekali berhenti berharap demikian. Begitulah kisah pencarianku dan ulang
tahunku selama tahun 2000an-90an ke bawah.
Dunia pasti berputar. Semuanya
berubah saat negara api menyerang. Ketika aliran sungai globalisasi yang selama
ini mengalir tenang dideteksi keberadaan saat arusnya meningkat dan
menghancurkan tembok bernama “kemandirian”. Menghantam dinding-dinding
kehidupan dalam berbagai bidang ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan,
sosial dan budaya. Dan saat itu manusia hanya bisa jadi penonton dan pengikut.
Tak ada satu pun kita yang berani menjadi aktor utama karena ada proses
pembodohan terorganisir selama berpuluh tahun. Kalaupun ada, kebanyakan aktor
adalah kacung-kacung dari bos globalisasi. Sejarah ini memang tidak ada hubungan
logisnya langsung dengan ulang tahun. Namun seperti yang saya katakan, bahwa
“Semuanya berubah saat negara api menyerang”. Saat sejarah itu berlangsung kita
kedatangan banyak tamu baru, yang secara otomatis merubah kehidupan saat itu
sampai sekarang ini. Saya tidak akan banyak bicara tentang keganasan
globalisasi mempermainkan kita. Mari kita kembali kepada kisah ulang tahunku
setelah tahun 2000an sampai sekarang. Bagaimana wajah ulang tahun semenjak
munculnya hape, “media-televisi”, internet, media sosial, dan kebebasan yang
sebebas-bebasnya. Silakan anda pikirkan. Bayangkan. Korelasikan dengan
kehidupan. Dan tariklah sebuah kesimpulan.
Ya, persis seperti yang anda
fikirkan itu yang ingin saya tulis. Jadi untuk menghemat kertas, saya tak perlu
lagi menuliskannya di sini.
Melihat fenomena saat ini, ulang
tahun sudah dipermudah semenjak maraknya friendster sekitar tahun 2006 di
Indonesia. Kita bisa mengadakan pesta tahun cukup di dunia maya. Apalagi
setelah facebook dan twitter mulai marak sekitar 2008-2009 yang juga
menghancurkan karir frienster di dunia maya -sehingga situs ini banting stir
menjadi situs games-, pesta ulang tahun di dunia maya semakin dipermudah. Dan
selama 3 tahun, mulai dari 2009-2011, saya terlibat dalam pesta ulang tahun di
dunia maya. Caranya : setiap ada teman fb yang ulang tahun saya menuliskan
selamat dan doa di wallnya, begitu
pun saat saya ulang tahun saya menunggu-nunggu ucapan selamat dan doa di wall saya bahkan dari orang tak dikenal
sekalipun. Memang sih “sepertinya” itu non-sense
sekali, tapi sebenarnya melakukan hal itu mempunyai sensasi tersendiri daripada
pesta nyata. Effeknya sepanjang hari dan ditambah lagi dengan hari-hari
setelahnya di dunia nyata. Mungkin kita akan berterimakasih sekali kepada Mark
Zukernberg untuk hal ini. Tapi setelah 2011 saya tidak peduli lagi dengan ulang
tahun. Malahan saya takut ulang tahun. Bukan takut pada perayaannya yang
aneh-aneh itu –ada yang disiram, dilempar pake telor dan tepung, diceburin,
diikat di tiang listrik, di gesek ke tiang listrik, bahkan lebih parahnya
dikencingi atau dilumuri tai-. Memang sih itu juga menakutkan, tapi ada yang
lebih menakutkan lagi daripada itu. Ini mengenai apa yang kita bicarakan di
paragraf pertama tadi. Kalau mau saya katakan lagi disini bahwa ulang tahun itu
tidak penting, selain menghabiskan waktu dan uang, ulang tahun juga sering
“disalahgunakan”, seperti contoh aneh yang saya sebutkan. Dan sisi positif yang
ingin kita dapatkan dengan adanya ulang tahun itu bullshit jika kita hanya mengharapkan saat ulang tahun. Dan adanya
ulang tahun di dunia nyata maupun di dunia maya, menurut saya, tidak merubah
apa-apa. But only make you more childish.
Sudahlah, jangan dipaksakan.
Ulang
tahun adalah sesuatu yang berlebihan untuk merayakan hari kelahiran. Aha! *cling*
timbul pertanyaan dari saya. Ulang tahun ini kan berasal dari barat, anggap
saja Amerika atau Inggris, dimana mereka menyebutkan happy birthday. Tapi kenapa kita mengartikannya dengan ulang tahun?
Apakah orang-orang dulu itu tidak belajar bahasa inggris? Jelas-jelas “birthday” kalau diartinya adalah “hari
lahir”, kenapa ujug-ujug bisa berubah jadi ulang tahun? Ah.. sudahlah, mulai
sekarang saya akan menghapus kosa kata ulang
tahun dari memori saya. Dan saya ingin suatu saat nanti rakyat indonesia
juga menghapus kosa kata ini. Saya harap saya mempunyai cukup masa untuk
mendukung aksi “Hapuskan kosa kata Ulang Tahun dari KBBI!”. Mungkin paragraf
ini akan saya jadikan intermezo saja. Tapi sebenarnya intinya itu ada di
paragraf ini. Allah membenci orang yang berlebih-lebihan.
Ulang tahun tidak sepenuhnya
memberikan efek negatif, bagi gue ya. Ya boleh dikatakan ulang tahun memberi
gua some experience to do some ceative
experiment. Dan gua belajar berterimakasih dan menghargai pada hari ulang
tahun. Kalau boleh gua mengingat-ingat kembali, walaupun susah untuk diingat,
pertama kali orang ngucapin selamat ulang tahun buat gua itu pas SD atau SMP.
Dan tanggapan gua emang sih agak cuek, it’s just like,“apaan sih, biasa aja
kali”. Gua pikir ulang tahun doang kok, gausah diselamatin juga kali. Tapi bagi
dia yang mengucapkan itu, hal tersebut mungkin merupakan sebuah kepedulian yang
diungkapkan dengan mengumpulkan segenap keberanian untuk menggungkapkannya.
Pantas aja orangnya ngambek saat tanggapan gua kaya gitu. Yaudah sih, abis itu
gua minta maaf kok dan bilang, “makasih ya”. Dan biar bagaimana pun kata
terimakasih itu tetap menjadi menjadi sebuah kata ajaib jika digunakan pada
saat yang tepat. Bahkan disaat tersulit sekalipun jika kita ucapkan
“terimakasih” untuk sebuah kepedulian sekecil apapun, something miracle could be happened. Sekali saat ulang tahun di SMA
saya diguyur pake “ramuan cinta” yang entah apa saja komposisinya serta
timpukan telor, saya katakan, “Terimakasih kawan-kawan!”. Semua lega, padahal
sebenarnya mereka mengira saya akan marah sekali dan bertindak anarkis.
“Seandainya, saat itu lu diam aja dan langsung pergi, mungkin kita semua bakal
sangat merasa bersalah banget sama lo”, begitu kata salah seorang oknum. Dengan
tanggapan gua, “ah, ga apa-apa kok. Makasih ya udah inget ulang tahun gua”, miracle happened twice, it couldnt be seen
by eyes but you could fell it be there. Besoknya gua dapat hadiah jam
dinding, Itu adalah tahun ke 17 gua hidup. Gua diguyur cuma dua kali, sekali
lagi saat masa kuliah, saat tahun ke 20 gua hidup. Ada alasan logis terimakasih
pada saat itu untuk mereka, sahabat seperjuangan di upbm, bahwa hari itu aku
mendapatkan kue ulang tahun pertama selama 20 tahun. Sekali lagi terimakasih
banyak sahabat.
Begitulah saya dapat mengingat
setiap momen ulang tahun yang saya katakan dapat dihitung pake jari kaki ayam
itu. Setelah ini apa yang akan terjadi pada ulang tahun maka terjadilah. Karena
selama dua tahun ini sampai sekarang, saya tak peduli lagi pada ucapan selamat
ulang tahun. Saya tak peduli dengan kata ulang tahun, saya lebih suka
menyebutnya dengan birthday dalam
bahasa inggris atau milad atau hari lahir dalam bahasa indonesia. Udah gitu
aja. Tetapi tanpa seorang pun yang tahu tentang ketidakpedulian ini, saya
selalu berharap yang terbaik selalu
diberikan Allah kepada orang yang sedang berada pada hari lahirnya saat ini.
Mungkin tidak ada manusia yang tahu, karena mereka hanya melihat
“ketidakpedulian kita” saja. Tak masalah sedikitpun, karena doa itu dilakukan
hanya kepada Allah, Tuhan yang mengabulkan setiap doa hambanya yang berdoa. Doa
tidak untuk ditulis di wall orang
yang mau kita doakan agar dia tahu kita mendoakannya. Doa tidak bisa lewat
facebook atau mentionan twitter, karena
FB atau twitter atau blog ini pun tak mampu melakukan apapun. Akan tetapi,
Allah dapat melakukan segalanya karena dia Mahakuasa, Pencipta segalanya. Kalau
Dia sudah berkata jadilah, maka jadilah sesuatu itu. Berdoalah kepada Allah,
sobat. Untukmu dan untuk orang-orang yang engkau cintai.
Jadi, kalau mau benar-benar peduli,
bahagiakanlah mereka yang milad. Karena hari itu mereka sangat bahagia melebihi
hari apapun juga, apa lagi kalau ada kamu yang peduli sama miladnya dia kan.
Kalau bisa kita yang mentraktir mereka, bukan sebaliknya. Dan jangan lupa
sebutkan dia dalam doa-doa kita, karena doa-doa yang kita panjatkan kepada
Allah terhadap saudara kita, tidak lain akan diamini oleh para malaikat di
setiap lapis langit, dan para malaikat akan mendoakan hal yang sama untuk kita.
Jadi, jangan heran ketika kita mendoakan saudara kita malah kita duluan yang
dapat. Kira-kira seperti itulah dunia yang selama ini saya impikan. Kita saling
peduli. Kita saling membahagiakan. Saling berebut untuk memberi. Dan dalam
diam, saling mendoakan.
Terakhir, sebagai penutup saya ingin ungkapkan disini rasa syukur saya kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala yang memberikan saya daya dan upaya untuk dapat mencurahkan isi pikiran dan hati ini melalui sebuah tulisan. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan nilai, pelajaran, wawasan, serta pemahaman yang melebihi apa yang tertulis di sini. Khususnya untuk diri saya pribadi, umumnya muslimin wal muslimat dan mukminin wal mukminat yang ada di dunia ini. Dan lebih umum lagi kepada seluruh manusia. Dan saya ingin berwasiat kepada semua, dimana ini juga adalah wasiat para nabi, “Bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Dan jangan mati kecuali kamu sudah berIslam (Tunduk dan Berserah diri kepada Allah) | muslimin. Dan hiduplah dengan Alquran”.
0 comments:
Post a Comment