Saturday, November 8, 2014

Hello 17 Muharram

Hari ini benar-benar adalah hari yang baru bagiku. Layaknya hari-hari yang pernah kulalui sebelumnya yang menyadarkanku bahwa tidak ada hari yang sama. Sejatinya juga kita tidak pernah benar-benar menginginkan satu hari yang sama datang kembali. Bahkan jika bahagia yang dirasa, mengenangnya adalah cara terindah untuk menikmatinya kembali. Tapi untuk mengulanginya? Entahlah.

Jiwa kita saat ini adalah jiwa yang sama ketika pertama kali merasakan dunia. Namun sejatinya, kita adalah sebuah perubahan. Karena pikiran, hati, dan raga kita tidak ingin sama setiap detik perputaran bumi. Salah satunya akan memberontak jika salah lainnya tidak berjalan di atas perubahan. Maka jadilah kita detik ini adalah kita yang berbeda dari satu detik yang lalu. Benarkah? Entahlah.

Pada tanggal ini hari kedua, saat jiwa ini merasakan dunia untuk pertama kalinya, saat itulah aku mulai ada. Aku tak tahu bahwa aku akan hidup selama 63 tahun kemudian. Namun sekarang aku merasa waktuku tinggal 39 tahun lagi jika aku menjalaninya dengan normal. Saat-saat beginilah aku merasakan sebuah kegilaan laku. Aku sudah lama tidak mempercayai angka-angka usia di dunia. Bagiku tutup usia bukanlah sebuah keberakhiran, namun ia adalah sebuah gerbang awal kehidupan abadi. Dan usia bukanlah masalah angka, namun seberapa lama jiwanya mampu bertahan di bumi. Ini bukan bualan belaka, merekalah yang sudah membuktikannya. Akukah selanjutnya? Entahlah.

Entahlah.. entahlah.. entah!!

Aku hanya ingin kembali kepada-Nya, dengan jiwa yang tetap hidup di Bumi.



Ahad, 17 Muharram 1436 H ( sejak 1412 H )



Tuesday, May 20, 2014

Terimakasih Telah Berulangtahun Hari Ini!

Jika selama ini disaat seseorang berulangtahun, biasanya mengucapkan selamat. Saya ingin mendobrak kebiasaan lama itu dengan metoda baru, yaitu dengan mengucapkan terimakasih kepada orang yang sedang berulangtahun.

Kenapa?

Mungkin banyak alasan yang bisa saya ungkapkan untuk mendukung pernyataan ini, oleh karena itu kamu berfikirlah memikirkan alasan-alasannya. Aku tahu kalian semua pintar-pintar memikirkan ini jika kalian setuju dengan ku.

Aku, 21052014


Monday, October 28, 2013

ULANG TAHUN ITU APA? PENTING?


Sekian tahun saya hidup di dunia ini, tak ada satu pun orang yang memberitahu saya apa itu ulang tahun. Sampai akhirnya saya mengerti sendiri bahwa ulang tahun itu adalah munculnya tanggal yang persis sama dengan tanggal kelahiran kita pada tahun berikutnya.  Namun sejatinya ulang tahun itu tidak pernah ada, karena setiap tahun adalah tahun yang baru. Mungkin itu salah satu alasan kenapa mama papa ga pernah mengajarkan ulang tahun pada saya. Selain tidak penting – mungkin – ulang tahun juga menghabiskan waktu dan uang, dan sering “disalahgunakan”, itu kesimpulan saya. Walaupun juga banyak sisi positifnya, yaitu : menambah keakraban, belajar peduli dengan yang lain, ladang amal mungkin bagi yang mentraktir makan, dan yang terpenting adalah sebagai  waktu yang tepat untuk evaluasi diri. Dan menurut saya, tak perlu menunggu waktu ulang tahun juga ya kalau mau mendapatkan sisi positif tersebut. Itu bahkan bisa kita lakukan setiap hari. Tapi apa boleh dikata, lingkunganlah yang memaksa kita untuk menganggap penting ulang tahun. Satu lagi sebelum aku lupa menuliskannya, setiap orang ingin diperhatikan. Itu.

Seumur hidup saya tak pernah menyengajakan merayakan hari ulang tahun sendiri, ataupun menyengajakan agar hari ulang tahun saya dirayakan. Kalaupun ada, itu hanya hari yang dirayakan secara surprise oleh sahabat, sahabat ulangtahun. Dan itu pun dapat dihitung dengan jari pada kaki ayam. Bahkan saya lebih sering menghindari untuk tidak adanya peringatan untuk hari kelahiran saya ini. Tak tahu bagaimana awalnya bisa begini, tapi ini adalah kisah pencarian yang sangat panjang jika harus diceritakan. Bahkan kalaupun aku cerita, kamu juga ga akan peduli. Walaupun kamu ga peduli, aku akan tetap cerita. Karena ga ada yang memaksa kamu untuk membaca tulisan ini.

 Pertama kali saya menyaksikan sendiri orang yang ulang tahun adalah waktu SD, teman SD yang agak gaul saat itu. Bahkan saya baru tahu saat itu, kalau ada lilin, kue, terompet, balon, hadiah, dll di pesta ulang tahun. Aneh? Ya enggaklah, namanya juga anak-anak, wajar aja kalau baru tahu. Malah saat itu saya baru tahu ulang tahun itu  ternyata pake tanggal lahir kita masing-masing. Lalu saya cari tahulah kapan tanggal lahir saya. Saat itu saya cuma tahu 12 Rabiul Awal pada tahun Fiil adalah hari lahirnya Nabi Muhammad karena ada lagu. Setelah melihat surat keterangan kelahiran tenyata tanggal lahir saya adalah 17 Muharram 1412. Betapa senang hati ini mengetahuinya, namun setelah melihat kalender tidak ada bulan yang bernama Muharram. Sempat bingung sih, tapi setelah melihat Surat Keterangannya kembali bertambah senang rasanya mengetahui punya dua tanggal lahir, yang satu tahun hijriyah satu lagi 29 Juli 1991. Semenjak saat itu, saya berharap akan ada pesta ulang tahun layaknya seperti teman-teman yang lain. Tetapi kenyataannya memang tidak pernah ada pesta untukku. Sedih? Pernah sih merasa sedih, bahkan pernah bakar lilin sendiri terus niup lilinnya sendiri. Dan tak seorang pun yang mengetahui kejadian itu, sampai saat aku ceritakan ini sekarang padamu. Itu bukti mahalnya rasa penasaran, kata orang kadang kau bisa terbunuh saat berusaha membunuh rasa penasaran. Untung saja saya berhasil melewatinya dengan selamat. Memang tidak pernah ada pesta ulang tahun seperti harapanku dulu, dan saya juga sudah lama sekali berhenti berharap demikian. Begitulah kisah pencarianku dan ulang tahunku selama tahun 2000an-90an ke bawah.

Dunia pasti berputar. Semuanya berubah saat negara api menyerang. Ketika aliran sungai globalisasi yang selama ini mengalir tenang dideteksi keberadaan saat arusnya meningkat dan menghancurkan tembok bernama “kemandirian”. Menghantam dinding-dinding kehidupan dalam berbagai bidang ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, sosial dan budaya. Dan saat itu manusia hanya bisa jadi penonton dan pengikut. Tak ada satu pun kita yang berani menjadi aktor utama karena ada proses pembodohan terorganisir selama berpuluh tahun. Kalaupun ada, kebanyakan aktor adalah kacung-kacung dari bos globalisasi. Sejarah ini memang tidak ada hubungan logisnya langsung dengan ulang tahun. Namun seperti yang saya katakan, bahwa “Semuanya berubah saat negara api menyerang”. Saat sejarah itu berlangsung kita kedatangan banyak tamu baru, yang secara otomatis merubah kehidupan saat itu sampai sekarang ini. Saya tidak akan banyak bicara tentang keganasan globalisasi mempermainkan kita. Mari kita kembali kepada kisah ulang tahunku setelah tahun 2000an sampai sekarang. Bagaimana wajah ulang tahun semenjak munculnya hape, “media-televisi”, internet, media sosial, dan kebebasan yang sebebas-bebasnya. Silakan anda pikirkan. Bayangkan. Korelasikan dengan kehidupan. Dan tariklah sebuah kesimpulan.

Ya, persis seperti yang anda fikirkan itu yang ingin saya tulis. Jadi untuk menghemat kertas, saya tak perlu lagi menuliskannya di sini.
Melihat fenomena saat ini, ulang tahun sudah dipermudah semenjak maraknya friendster sekitar tahun 2006 di Indonesia. Kita bisa mengadakan pesta tahun cukup di dunia maya. Apalagi setelah facebook dan twitter mulai marak sekitar 2008-2009 yang juga menghancurkan karir frienster di dunia maya -sehingga situs ini banting stir menjadi situs games-, pesta ulang tahun di dunia maya semakin dipermudah. Dan selama 3 tahun, mulai dari 2009-2011, saya terlibat dalam pesta ulang tahun di dunia maya. Caranya : setiap ada teman fb yang ulang tahun saya menuliskan selamat dan doa di wallnya, begitu pun saat saya ulang tahun saya menunggu-nunggu ucapan selamat dan doa di wall saya bahkan dari orang tak dikenal sekalipun. Memang sih “sepertinya” itu non-sense sekali, tapi sebenarnya melakukan hal itu mempunyai sensasi tersendiri daripada pesta nyata. Effeknya sepanjang hari dan ditambah lagi dengan hari-hari setelahnya di dunia nyata. Mungkin kita akan berterimakasih sekali kepada Mark Zukernberg untuk hal ini. Tapi setelah 2011 saya tidak peduli lagi dengan ulang tahun. Malahan saya takut ulang tahun. Bukan takut pada perayaannya yang aneh-aneh itu –ada yang disiram, dilempar pake telor dan tepung, diceburin, diikat di tiang listrik, di gesek ke tiang listrik, bahkan lebih parahnya dikencingi atau dilumuri tai-. Memang sih itu juga menakutkan, tapi ada yang lebih menakutkan lagi daripada itu. Ini mengenai apa yang kita bicarakan di paragraf pertama tadi. Kalau mau saya katakan lagi disini bahwa ulang tahun itu tidak penting, selain menghabiskan waktu dan uang, ulang tahun juga sering “disalahgunakan”, seperti contoh aneh yang saya sebutkan. Dan sisi positif yang ingin kita dapatkan dengan adanya ulang tahun itu bullshit jika kita hanya mengharapkan saat ulang tahun. Dan adanya ulang tahun di dunia nyata maupun di dunia maya, menurut saya, tidak merubah apa-apa. But only make you more childish. Sudahlah, jangan dipaksakan.

            Ulang tahun adalah sesuatu yang berlebihan untuk merayakan hari kelahiran. Aha! *cling* timbul pertanyaan dari saya. Ulang tahun ini kan berasal dari barat, anggap saja Amerika atau Inggris, dimana mereka menyebutkan happy birthday. Tapi kenapa kita mengartikannya dengan ulang tahun? Apakah orang-orang dulu itu tidak belajar bahasa inggris? Jelas-jelas “birthday” kalau diartinya adalah “hari lahir”, kenapa ujug-ujug bisa berubah jadi ulang tahun? Ah.. sudahlah, mulai sekarang saya akan menghapus kosa kata ulang tahun dari memori saya. Dan saya ingin suatu saat nanti rakyat indonesia juga menghapus kosa kata ini. Saya harap saya mempunyai cukup masa untuk mendukung aksi “Hapuskan kosa kata Ulang Tahun dari KBBI!”. Mungkin paragraf ini akan saya jadikan intermezo saja. Tapi sebenarnya intinya itu ada di paragraf ini. Allah membenci orang yang berlebih-lebihan.

Ulang tahun tidak sepenuhnya memberikan efek negatif, bagi gue ya. Ya boleh dikatakan ulang tahun memberi gua some experience to do some ceative experiment. Dan gua belajar berterimakasih dan menghargai pada hari ulang tahun. Kalau boleh gua mengingat-ingat kembali, walaupun susah untuk diingat, pertama kali orang ngucapin selamat ulang tahun buat gua itu pas SD atau SMP. Dan tanggapan gua emang sih agak cuek, it’s just like,“apaan sih, biasa aja kali”. Gua pikir ulang tahun doang kok, gausah diselamatin juga kali. Tapi bagi dia yang mengucapkan itu, hal tersebut mungkin merupakan sebuah kepedulian yang diungkapkan dengan mengumpulkan segenap keberanian untuk menggungkapkannya. Pantas aja orangnya ngambek saat tanggapan gua kaya gitu. Yaudah sih, abis itu gua minta maaf kok dan bilang, “makasih ya”. Dan biar bagaimana pun kata terimakasih itu tetap menjadi menjadi sebuah kata ajaib jika digunakan pada saat yang tepat. Bahkan disaat tersulit sekalipun jika kita ucapkan “terimakasih” untuk sebuah kepedulian sekecil apapun, something miracle could be happened. Sekali saat ulang tahun di SMA saya diguyur pake “ramuan cinta” yang entah apa saja komposisinya serta timpukan telor, saya katakan, “Terimakasih kawan-kawan!”. Semua lega, padahal sebenarnya mereka mengira saya akan marah sekali dan bertindak anarkis. “Seandainya, saat itu lu diam aja dan langsung pergi, mungkin kita semua bakal sangat merasa bersalah banget sama lo”, begitu kata salah seorang oknum. Dengan tanggapan gua, “ah, ga apa-apa kok. Makasih ya udah inget ulang tahun gua”, miracle happened twice, it couldnt be seen by eyes but you could fell it be there. Besoknya gua dapat hadiah jam dinding, Itu adalah tahun ke 17 gua hidup. Gua diguyur cuma dua kali, sekali lagi saat masa kuliah, saat tahun ke 20 gua hidup. Ada alasan logis terimakasih pada saat itu untuk mereka, sahabat seperjuangan di upbm, bahwa hari itu aku mendapatkan kue ulang tahun pertama selama 20 tahun. Sekali lagi terimakasih banyak sahabat.

Begitulah saya dapat mengingat setiap momen ulang tahun yang saya katakan dapat dihitung pake jari kaki ayam itu. Setelah ini apa yang akan terjadi pada ulang tahun maka terjadilah. Karena selama dua tahun ini sampai sekarang, saya tak peduli lagi pada ucapan selamat ulang tahun. Saya tak peduli dengan kata ulang tahun, saya lebih suka menyebutnya dengan birthday dalam bahasa inggris atau milad atau hari lahir dalam bahasa indonesia. Udah gitu aja. Tetapi tanpa seorang pun yang tahu tentang ketidakpedulian ini, saya selalu berharap  yang terbaik selalu diberikan Allah kepada orang yang sedang berada pada hari lahirnya saat ini. Mungkin tidak ada manusia yang tahu, karena mereka hanya melihat “ketidakpedulian kita” saja. Tak masalah sedikitpun, karena doa itu dilakukan hanya kepada Allah, Tuhan yang mengabulkan setiap doa hambanya yang berdoa. Doa tidak untuk ditulis di wall orang yang mau kita doakan agar dia tahu kita mendoakannya. Doa tidak bisa lewat facebook atau mentionan twitter, karena FB atau twitter atau blog ini pun tak mampu melakukan apapun. Akan tetapi, Allah dapat melakukan segalanya karena dia Mahakuasa, Pencipta segalanya. Kalau Dia sudah berkata jadilah, maka jadilah sesuatu itu. Berdoalah kepada Allah, sobat. Untukmu dan untuk orang-orang yang engkau cintai.

Jadi, kalau mau benar-benar peduli, bahagiakanlah mereka yang milad. Karena hari itu mereka sangat bahagia melebihi hari apapun juga, apa lagi kalau ada kamu yang peduli sama miladnya dia kan. Kalau bisa kita yang mentraktir mereka, bukan sebaliknya. Dan jangan lupa sebutkan dia dalam doa-doa kita, karena doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah terhadap saudara kita, tidak lain akan diamini oleh para malaikat di setiap lapis langit, dan para malaikat akan mendoakan hal yang sama untuk kita. Jadi, jangan heran ketika kita mendoakan saudara kita malah kita duluan yang dapat. Kira-kira seperti itulah dunia yang selama ini saya impikan. Kita saling peduli. Kita saling membahagiakan. Saling berebut untuk memberi. Dan dalam diam, saling mendoakan.

Terakhir, sebagai penutup saya ingin ungkapkan disini rasa syukur saya kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala yang memberikan saya daya dan upaya untuk dapat mencurahkan isi pikiran dan hati ini melalui sebuah tulisan. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan nilai, pelajaran, wawasan, serta pemahaman yang melebihi apa yang tertulis di sini. Khususnya untuk diri saya pribadi, umumnya muslimin wal muslimat dan mukminin wal mukminat yang ada di dunia ini. Dan lebih umum lagi kepada seluruh manusia. Dan saya ingin berwasiat kepada semua, dimana ini juga adalah wasiat para nabi, “Bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Dan jangan mati kecuali kamu sudah berIslam (Tunduk dan Berserah diri kepada Allah) | muslimin. Dan hiduplah dengan Alquran”.